ERNI JULIA KOK

Call us: +62811340686

            NLP merupakan pengodefikasian strategi mental yang dimodel dari tiga hipnoterapis ternama pada masa itu, yakni Fritz Perls (Gestalt Therapy), Virginia Satir (Family Therapy) dan Clinical Hypnosis yang juga merupakan Bapak hipnoterapi modern, Milton H. Erickson. Dari hasil penelitian strategi mental dan pola perilaku Satir dan Perls, Bandler bersama Grinder berhasil menciptakan model NLP yang pertama: Meta Model dan dibukukan dengan judul The Structure of Magic: A Book About Language andTherapy (1975).

            Pada saat Bandler, Grinder dan kelompok studi yang terlibat dalam proyek modeling sedang bergairah karena berhasil mengodefikasi suatu model baru, secara tidak sengaja Bandler dan Grinder menemukan model kedua yang disebut representational system. Model kedua NLP ini memungkinkan pemodelan Satir dan kemudian Erickson membukakan jalan menuju NLP hari ini. Representational system terangkum dalam buku mereka The Structure of Magic volume II: A Book About Communication & Change (1976).

            Gregory Bateson, ilmuwan serba bisa dan juga dosen linguistik dari UCLA, Santa Cruz merekomendasikan agar Bandler dan Grinder me-modeling Erickson secara langsung dan mempelajari ratusan karya-karyanya. Erickson menyambut baik maksud mereka dan setelah membaca catatan-catatan yang dibuat Grinder, doktor psikiater unik itu mengakui keefektifan metode modeling yang dikembangkan Bandler dan Grinder. Sebab Erickson tak akan mampu mengajarkan metode hypnosis yang digunakannya karena ia melakukannya dengan pikiran sub consciousness. Tetapi melalui metode modeling, hal itu dimungkinkan. Milton model mereka rangkum dalam buku Patterns of the Hypnotic Techniquees of Milton H. Erickson, M.D., volume I dan volume II.

            Keempat buku tersebut dan seminar-seminar yang mereka jalankan dalam waktu singkat mendapatkan pengakuan di seluruh Amerika bahwa, NLP merupakan suatu pendekatan baru yang memungkinkan orang mencapai keunggulan di bidang yang diinginkan, meningkatkan keterampilan komunikasi dalam bisnis, relasi keluarga dan tentu saja dalam bidang hipnoterapi. Dari kumpulan seminar lahir pula buku Frogs into Princes (1979) yang mendapatkan pujian luas, dan sejak itu ketiga model utama tersebut di atas dikenal sebagai neuro linguistic programming.

            Jejak evolusi NLP sejak 1975 hingga akhir 1980 terekam pula dalam buku Neuro-Linguistic Programming: Volume I The Study of the Structure of Subjective Experience yang ditulis bersama oleh co-creators Richard Bandler, John Grinder, Robert Dilts dan Judith DeLozier. Bergabungnya “kekuatan” Robert Dilts dan Judith DeLozier menjadi NLP melebihi harapan kedua pencipta pertamanya. Hal ini dapat dibaca dalam kata pengantar buku ini: “NLP is the unexpected byproduct of the collaboration of John Grinder and Richard Bandler to formalize impactful pattern of communication (e.g. therapeutic, sales etc … ) With the addition of Robert Dilts, and Judith De Lozier NLP took form into more than any one of us ever expected.”

 

Apa Dasarnya Dinamakan NLP?

Sebagai “byproduct” pada awalnya kedua penciptanya memang tidak tahu harus disebut apa. Namun semakin kuatnya bentuk atau ‘form’ dan dalam proses penyusunan buku NLP Volume I ini, quartet penulis ini menjelaskan: “The name neurolinguistic programming stands for what we maintain to be the basic process used by all human beings to encode, transfer, guide and modify behavior.” (Nama neurolinguistic programming mewakili argumen kami tentang dasar proses yang digunakan oleh umat manusia untuk mengodefikasi, memindahkan, memandu dan memodifikasi perilakunya.)

            Selanjutnya pada bagian pendahuluan mereka menjelaskan masing-masing makna di balik pemilihan nama model ini. Penjelasn ini pula yang kemudian menjadi acuan bagi pengguna NLP hingga hari ini.

            “Neuro” dalam bahasa Yunani neuron berarti sistem syaraf otak dan mengacu kepada ide fundamental bahwa setiap perilaku manusia dikendalikan oleh neurological pada saat memproses informasi yang diakses melalui inderawi. “Linguistic” (dalam bahasa Latin lingua): mengindikasikan bahwa proses sistem syaraf direpresentasikan, diatur dan diurutkan ke dalam model-model dan strategi-strategi melalui bahasa dan sistem komunikasi. “Programming” mengacu kepada tersedianya pilihan dan cara mengorganisasi ide-ide untuk mencapai hasil yang diinginkan semaksimal-maksimalnya. 

            NLP terus berkembang dan berevolusi selama empat dekade terakhir ini. Hingga hari ini ribuan judul buku dalam berbagai bahasa telah diterbitkan, serta jutaan orang telah menjadi praktisi di seluruh dunia. Pengaruh NLP pada bidang pengembangan sumber daya manusia telah diakui impaknya. 

            Perkembangan ini dimugkinkan karena sejak inisiasinya NLP memiliki arah yang jelas; pertama: sebagai proses untuk mengungkap pola dan strategi mental para jenius di bidangnya masing-masing.  Jika seseorang dapat mengungkap strategi mental jenius lainnya, terutama yang melibatkan pikiran bawah sadarnya (unconscious mind) maka kita dapat meniru atau memodel dan melakukannya dengan hasil yang sama atau bahkan lebih baik. Sebagai contoh: jika kita bertanya kepada seorang pemain piano yang sangat piawai bagaimana ia melakukan permainan yang demikian mengagumkan, dalam banyak kasus orang tersebut tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Mungkin ia dapat menjelaskan bahwa, ia banyak berlatih, ia dapat membaca dan memahami tangga nada, tetapi ia tidak dapat menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi dalam sistem neurological-nya.

            Untuk itu kita dapat melakukan pengamatan (mengobservasi) ketika ia sedang bermain untuk mempelajari strategi mental dan apa yang berlangsung dalam unconscious mind-nya ketika ia sedang memainkan suatu simfoni yang indah. Dengan demikian kita akan dapat mengungkap banyak informasi yang tidak mungkin diberikannya secara conscious. Arah dan tujuan yang kedua adalah untuk membangun keterampilan berkomunikasi; baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri.

            NLP bukan satu-satunya studi perubahan perilaku manusia. Perbedaannya dengan metode atau pendekatan lain adalah bahwa NLP ‘bekerja’ pada level dasar pikiran terdalam (deep structure). Pendekatan lain dapat saja menasihati kita untuk berhenti berkeluh-kesah, membuat kita termotivasi sesaat, melupakan perasaan-perasaan negatif untuk sementara waktu dan lain-lain. Sebaliknya dengan metode NLP seseorang dapat ‘menyelam’ ke deep structure pikirannya sendiri dan menemukan semua hambatan yang menghentikannya untuk mencapai apa yang diinginkan. Pendekatan ini memungkinkannya memogram ulang sistem berpikirnya.

            Menggunakan teknik modeling, seseorang dapat meniru orang lain yang menunjukkan perilaku efektif atau perilaku tertentu yang ingin dimilikinya. Bahkan kita dapat memodel state (kondisi) diri sendiri yang efektif untuk mengatasi berbagai hambatan di waktu kita merasa kurang bersumber daya. Tidak itu saja, kita dapat menciptakan imaji jenius diri kita sendiri.