ERNI JULIA KOK

Call us: +62811340686

Teknik modeling NLP memiliki tiga tahap, yang pertama observasi perilaku model (orang yang ketrampilannya hendak dimodel atau ditiru). Tahap kedua mengajukan pertanyaan, dan secara simultan mengalibrasi accessing cues (gerakan-gerakan bola mata, perubahan warna kulit, kerutan sekitar daerah mata, mulut, dan pernafasan) pada saat role model memberikan jawaban-jawabannya.  Dan tahap ketiga menempatkan diri pada posisi orang tersebut atau act as if.

            Eye-accessing cues dapat diperluas menjadi model BAGEL dari Robert Dilts.  Bagel (roti keras yang mirip donat) adalah kepanjangan dari body—fisiologi, auditory, gesture, eye-accessing cue, dan language). Teknik ini dapat digunakan untuk  mengobservasi bahasa tubuh, suara, gerakan kepala, tangan, mimik, kerutan pada daerah mata dan bibir, perubahan warna kulit wajah dan sebagainya. Gerakan bola mata atau pupil ketika mengakses informasi visual, suara, dan kinesthetic akan berbeda ketika seseorang sedang dalam state (kondisi mental) berbeda, misalnya ketika sedang kreatif dan ketika sedang stagnan. Yang terakhir kita juga dapat menganalisasi kata-kata atau bahasa dan pemilihan predikat yang bersangkutan.

            Setelah menyelesaikan tahap observasi, maka pemodel/peniru akan mendapatkan banyak sekali informasi, beberapa di antaranya merupakan gaya sang model. Hasil observasi dapat disamakan dengan data mentah, maka perlu dipisahkan secara sistematik lapisan demi lapisan atau bagian perilaku model tersebut. Perilaku efektif dan esensial saja yang dimodel, sedangkan yang tidak ditinggalkan. Dengan demikian jika pemodel masih memiliki pertanyaan, ia dapat menanyakan secara tepat, dan membantu model untuk menggali informasi yang terbenam dalam deep structure pikirannya. 

            Tahap terakhir adalah menganalisa hasil observasi itu sendiri, disimpulkan dan dapat dikodefikasi untuk diajarkan kepada orang lain. Sesungguhnya tiga tahap modeling inilah yang dilakukan Richard Bandler dan John Grinder pada tahun 1974 di University of California Santa Cruz, California, Amerika Serikat dan menjadi cikal-bakal Neuro Linguistic Programming (NLP) hari ini.

            Modeling sangat pragmatis dan didorong oleh hasil yang diharapkan. Tidak ada model yang benar atau salah, yang ada hanyalah apakah proses modeling berjalan dengan baik atau tidak. Inilah sebabnya mengapa NLP sangat kuat sebagai aplikasi praktis, karena semua teknisnya mengacu pada memodel achievements (pencapaian-pencapaian) yang sesungguhnya.

Pemodel tidak sekedar meniru apa yang diekspresikan melalui perilaku. Pemodel tidak berusaha menjadi terlihat mirip, tetapi membuat suatu model yang dapat diaplikasikan dan model tersebut dirancang dengan menggabungkan nilai-nilai dan keunikan dirinya sendiri. Untuk jelasnya bayangkan apa yang dilakukan seorang insinyur yang memodel capung sebagai model helikopter. Atau memodel ikan paus sebagai model kapal selam.

Kegunaan Modeling Dalam Kehidupan Sehari-hari

Banyak kesenian seperti seni tari, seni pahat, ukir dan lukis serta seni musik akan lebih efektif  dipelajari dengan teknik modeling tiga tahap ini. Untuk mempelajari ketrampilan seperti tata rias, membuat pakaian, memasak, mengemudi dan sebagainya, yang belajar dapat meniru langsung perilaku model setelah cukup melakukan pengamatan. Dalam dunia olah raga, seorang atlit dapat mengenalkan gerakan-gerakan anggota tubuh dan tubuh kepada otak. Setelah itu dia dapat memperdalam pemahamannya dengan teknik visualisasi. Bagaimana hal ini mampu dilakukan?

            Pada dasarnya manusia adalah imitator alamiah, perhatikan saja balita. Mereka kapabel meniru setiap perilaku orang dewasa tanpa pernah ada yang mengajari sebelumnya. Jika secara biologi kita mewarisi gen nenek moyang secara turun-temurun sehingga dapat mempertahan keunikan spesies kita, maka untuk keterampilan dan pengetahuan, kita mewarisinya melalui imitasi atau modeling.

            Belakangan ini beberapa ahli neuron (neuro-scientist) mengaku telah berhasil mengenali neural substrates (bagian otak yang memegang peranan penting untuk kegiatan imitasi). Riset yang dilakukan pada struktur otak ini sekali lagi membuktikan kalau kita memang imitator alamiah.

            Vilayanur Ramachandran (2000), misalnya mengajukan hipotesis bahwa, primary motor dan promotor cortex akan langsung tersimulasi setiap kali seseorang memaknai gerakan-gerakan orang lainnya. Secara simultan atau otomatis otak menjalankan simulasi VR (virtual reality) dari gerakan-gerakan tersebut. Hal tersebut mustahil dilakukan otak seandainya tidak terdapat adanya mirror neuron. Mekanisme ini pula yang memungkinkan perkembangan peradaban dan ditunjukkan dengan bagaimana seorang balita dapat mempelajari banyak hal dalam waktu hitungan menit hanya dengan mengobservasi orang dewasa melakukannya. Ramachandran menguji hipotesisnya antara lain dengan membuat sebuah alat untuk membantu orang yang kehilangan salah-satu tangannya dalam kecelakaan dan mengalami penderitaan yang biasanya disebut phantom hand.

            Pendekatan NLP modeling yang dilakukan Robert Dilts lebih berfokus kepada mengobservasi perilaku dan dilengkapi dengan mempreteli rangkaian strategi mental yang berlangsung ketika pelaku yang dimodel sedang beraksi dengan sempurna. Dalam bukunya Strategies of Genius, ia menulis: “A strategy is a particular area of modeling in which you are sepecifically looking for a mental map that was used by the individual whom you are modeling …” Secara bebas potongan kalimat di atas dapat diterjemahkan: Yang dimaksud strategi adalah daerah tertentu atau peta mental dari orang yang sedang dimodel.

           Dalam buku yang sama Dilts juga menekankan pentingnya membedakan strategi atas tiga tahap, yaitu: Mikro, makro dan meta. Strategi mikro secara spesifik berfokus pada proses pikiran seseorang pada saat tertentu ketika ia sedang menyelesaikan suatu tugas. Sebagai contoh: Saya meminta Anda untuk mengingat kembali jalan-jalan di sebuah kota yang pernah Anda kunjungi. Apa yang pertama muncul dalam pikiran Anda? Visual? Auditory ataukah perasaan? Jika visual seberapa besar, jelas dan letak gambar yang Anda lihat dengan mata mental Anda? Lalu apa lagi yang Anda sadari, suara? Kalau begitu, seberapa keras suara tersebut dan datangnya dari arah mana? Perasaan apa yang muncul saat ini ketika mengingat pengalaman tersebut? Dan secara spesifik apa yang Anda rasakan ketika sedang berada di tempat tersebut?

            Strategi makro biasanya lebih luas cakupannya dan terdiri dari kumpulan strategi mikro. Contohnya: Modeling kewirausahaan, kesuksesan, kepemimpinan dan sebagainya. Jika saya ingin memodel kesuksesan Anda, maka pertanyaan yang perlu saya tanyakan bisa lebih sederhana, misalnya: Dari mana Anda memulai langkah pertama, kedua dan seterusnya hingga Anda mencapai posisi saat ini? Apa yang penting dalam hal ini dan mengapa penting?

            Sedangkan meta strategi adalah sebuah strategi untuk menyusun strategi-strategi lain. Sebuah contoh yang cukup menarik dapat digunakan untuk menjelaskan strategi meta ini. Dalam usahanya menemukan strategi untuk menjelaskan tentang alam semesta ini, Albert Einstein tidak semata-mata melakukan berbagai eksperimen dan perhitungan matematika. Ia ingin mengetahui apa yang ada dalam proses pikiran Tuhan. Ia dikutip mengatakan: “I want to know how God created this world. I am not interested in this or that phenomenon, in the spectrum of this or that element; I want to know his thoughts; the rest are details.”

 

Apa Yang Anda Lakukan Setelah Membaca Tulisan Ini?

Pikirkan seseorang yang sedang menekuni bidang profesi yang sama dengan Anda atau bidang profesi yang ingin Anda tekuni di masa yang akan datang. Carilah kesempatan untuk berguru kepadanya. Namun Anda tidak perlu memintanya mengajari Anda langkah demi langkah, sebaliknya, siapkan satu set pertanyaan untuk diajukan. Jawabannya nanti akan mengungkap mikro strateginya.

            Setelah itu Anda dapat menciptakan meta-model, yaitu seseorang dengan perilaku (behavior) seperti yang Anda inginkan. Aktifkan bioskop mental dan tampilkan meta model melakukan aktivitas tertentu—seperti yang diinginkan, misalnya sedang melakukan presentasi, bermain golf, menyanyi, berpidato, bernegosiasi dan sebagainya.