ERNI JULIA KOK

Call us: +62811340686

Satu Dari 10 Pertanyaan Paling Sering Orang Ajukan Tentang NLP: Benarkah NLP begitu powerful?

Jawaban saya: T-I-D-A-K! NLP tidak powerful atau berkuasa. Saya tidak bisa meminta orang belajar NLP seakan-akan memintanya menelan obat pencahar yang akan langsung bekerja mengaduk-aduk usus. Dan saya berpikir keras, jangan-jangan ini juga kesalahan yang pernah saya sendiri lakukan?! Jangan terulang lagi kalau memang demikian. Tapi…, seandainya NLP tidak powerful, dan bukan seperti obat pencahar yang begitu diminum langsung cret-cret-cret, lalu buat apa saya sendiri mempelajarinya, mendalaminya melalui praktik dan mengajarkannya pula kepada orang lain?

Jelasnya begini, NLP itu ibaratnya stir mobil, sedangkan menjalankan mobil itu ibarat menjalani kehidupan di dunia ini. Neuro, Linguistic dan Programing dari sananya sudah tersedia seperti mobil atau bis. Bagaimana mengoperasikannya dengan betul itu sama dengan memegang stir tadi. Kesimpulannya, stir tidak dapat dikatakan powerful, stir hanyalah stir, sebuah alat untuk mengemudikan mobil. Jadi kita belajar NLP disebabkan NLP sebagai ilmu menyediakan berbagai metode atau cara memegang stir atau mengemudi neuro linguistic programing secara betul. Maka dari itu, pengajar NLP yang hebat akan mengajarkan Anda mengemudikan pikiran dan tubuh Anda sebagai satu kesatuan sistemik.

Sedangkan pengajar yang biasa-biasa saja—karena belum pernah mempraktikkan sendiri apa yang diajarkannya, akan mengatakan kepada Anda bahwa NLP sangat powerfull! 
Bila diterapkan di bidang sales, meledakkan profit.
Bila diaplikasikan di bidang busines-management, kinerja kerja melesat.
Bila diterapkan di bidang terapi, orang menjadi semakin positif.
Bila diterapkan untuk bernegosiasi, terjadi kemudahan mencapai mufakat.
Untuk mendidik anak atau bahasa kerennya parenting, hubungan orangtua anak menjadi harmonis. Anak yang tadinya malas belajar jadi rajin, yang ngompol berhenti ngompol, yang gigit-gigit kuku jadi rajin manicure hehehe. Really?
Kalau seorang penulis menggunakannya untuk menulis, masalah writing block enyah.
Hei…bahkan untuk memasak dapat membantu meningkatkan cita rasa dan seterusnya dan seterusnya.

Hanya saja, anehnya, setelah selesai mengikuti rangkaian pelatihan atau lokakarya orang merasa semakin bingung, mereka bertanya-tanya: “Enaknya aku aplikasikan untuk apa ya nlp ini?” Atau:
“Wow, sekarang aku sudah belajar nlp loh, jadi aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan.” Nah, karena terlalu banyak pilihan, malah jadi berputar-putar di antara pilihan-pilihan itu, kan?
Belajar dari pertanyaan-pertanyaan dan jawaban yang tampaknya membuka banyak pintu kesempatan, membantu saya fokus pada satu mindset saja. Bagi saya mengajar NLP itu bagaikan melepaskan ikan-ikan ke kolam yang lebih besar dan menyiapkan mereka berenang di lautan, bukan mengajari atau memberitahukan bagaimana seharusnya berenang itu. Sebab, ikan mana sih yang tidak bisa berenang? Manusia mana sih yang tidak menggunakan otaknya?

 

“Ikan tidak berenang dalam air, melainkan airlah yang menghanyutkan ikan-ikan di dalamnya.” ~Peribahasa Tao.

 

Adakah cara efektif belajar NLP?

Tentu saja ada, namun perlu diingat bahwa, cara belajar orang berbeda-beda. Ada yang sudah “bisa” belajar hanya dengan membaca buku—kadang-kadang hanya satu atau dua buku! Ada yang sudah “bisa” hanya belajar dalam waktu dua hari pelatihan. Ada pula yang sudah “bisa” hanya belajar dengan mengikuti kursus on-line. Dalam artikel ini saya tidak ingin membahas beragam cara yang diterapkan orang untuk belajar NLP, namun berfokus pada pendapat saya pribadi saja.

Saya mengapresiasi NLP sebagai behavioral science, mestinya belajar menggunakan prinsip learning by doing. Bila selama belajar di kelas pelatihan, NLP Coach membimbing seorang peserta dengan baik dan peserta tersebut berkolaborasi, maka banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh peserta tersebut. Walaupun demikian banyak teknik yang dapat digunakan untuk membantu orang lain memerlukan pematangan dengan mempraktikkan secara berkesinambungan. Sayangnya, hal ini seringkali hanya eforia sesaat. Jadi tujuan mengikuti suatu workshop haruslah dirancang sebelumnya.

Sebagai NLP Coach saya selalu mengajukan pertanyaan dan minta jawaban tertulis peserta apa tujuannya mengikuti workshop tersebut. Tentu saja berdasarkan jawaban itulah saya membimbing masing-masing peserta melakukan perjalanan dari present state-nya menuju desired state. Sebagai contoh, jika peserta selama ini merasa tidak bisa berkomunikasi di tempat kerja (present state), maka perubahan yang diinginkan dan keadaan yang diinginkannya (desired state) adalah sesuatu yang dapat dibuktikannya dengan menggunakan representational system—perubahan diri dan strategi-strategi yang dapat dirasakan secara inderawi—dapat berkomunikasi dengan baik dan nyaman. Namun di atas semua itu adalah komitmen pribadi dan kesediaan mengesampingkan ego. Sebab tidak jarang terjadi, ego yang tidak terkendali menghambat kita melakukan perubahan sikap (attitude).

Bila diintisarikan, maka belajar NLP dapat dikatakan efektif bilamana orang sudah mengetahui bagaimana mengoperasikan neuro-linguistic-nya dan terus mempraktikkannya hingga mencapai level unconscious competent. Behavior positif yang dipahami selama di kelas workshop, bila terus dikuatkan akan menjadi otomatis. Tapi bila ditinggalkan kita akan kembali ke perilaku atau kebiasaan lama dalam waktu kurang dari 7 hari. Contoh: Selama workshop seorang peserta yang maju ke depan kelas sebagai volunteer mengaku pelupa. Lupa nama orang, lupa janji, lupa menaruh barang (mestinya menaruh barang secara sembarangan atau tidak pada tempatnya) dan banyak lagi lupanya, mungkin termasuk lupa membayar hutang. Orang ini kemudian saya terapi. Tidak penting sih teknik apa yang saya gunakan, intinya saya hanya membantunya mengubah sistem keyakinannya.

Bila orang terlatih mendengarkan, dapat mendengar ia mengekspresikan keyakinannya: “Aku ini pelupa!” (Ia mengidentifikasi dirinya sebagai pelupa). “Aku tidak bisa mengingat nama orang yang baru berkenalan dengannya,” (siapa bisa mengingat nama orang yang baru dikenal, jika sekaligus banyak dan sekilas saja?) “Aku selalu lupa di mana menaruh suatu benda, misalnya kunci mobil,” (hm…setiap benda kan harus ditaruh di tempatnya, bukan ditaruh di sembarang tempat supaya mudah ditemukan). “Aku sering lupa tempat aku memarkir mobilku,” (aku juga pernah, lupa sekali selanjutnya selalu saya ingat, saya memperhatikan nomor lokasi parkirnya, ketika masuk ke dalam gedung, saya mengidentifikasi toko di dekat pintu masuk, atau seperti teman saya, selfi mobilnya dulu.) Keyakinan-keyakinan salah itulah yang seharusnya diubah dan setelah melakukan perubahan saya memergokinya “sedang lupa lagi”. Kalang-kabut mencari makalahnya atau alat tulis lainnya. Saya lantas meminta peserta lain untuk mengingatkannya untuk mempraktikkan apa yang telah dipelajarinya: Menarik nafas panjang, menenangkan diri dan mengatakan dalam hati: “aku yakin aku bisa menemukan makalahku. Pikiran bawah sadarku pasti tahu di mana aku letakkan tadi, aku hanya perlu memberinya kesempatan.”

Peserta ini tentu saja akan terlepas dari keyakinan keliru yang memicu perilaku pelupa jika ia mempraktikkan cara di atas selama 60 hari. Tapi apakah saya dapat terus memantau dan memastikannya?

Saya akan mengakhiri tulisan ini dengan menyimpulkan: Cara efektif belajar nlp adalah: (1) Ketahui dan pahami perilaku lama yang ingin diubah, (2) Ketahui cara mengubahnya, (3) Terus praktikkan cara yang sudah dipelajari tersebut hingga masuk ke level unconscious competent.