ERNI JULIA KOK

Call us: +62811340686

Training Company NLP erni julia

Tulisan ini merupakan bagian pertama dari 2 bagian
yang akan dimuat berturut-turut di bulan Juli dan Agustus 2015.

Seperti trainer lain, saya pun pernah menjadi trainee, lalu menjadi pecandu seminar dan lokakarya dalam maupun luar negeri. Sebagai pecandu seminar, saya mengikuti berbagai macam pelatihan, mulai dari hard skill hingga soft skill. Mulai dari workshop perpajakan yang sangat “hard” hingga meditasi yang sangat “soft”.

Kebanyakan saya memilih menjadi menjadi silent faultfinder. Saat-saat duduk di ruang training dan bete setengah mati seperti itu saya sering berkata kepada diri sendiri: “Seandainya aku yang menjadi trainer, aku gak akan melakukan ini-itu yang dilakukan trainer atau pembicara ini.” Tetapi, namanya juga pencari kesalahan diam-diam, saya sedang melakukan kesalahan besar dan hal itu membuat saya tidak sadar betapa pentingnya positive feedbacks bagi trainer tersebut. Lebih-lebih lagi saya tidak menyadari bahwa masukan-masukan yang bermutu tidak saja berguna bagi si penerima tetapi juga sekaligus bermanfaat bagi si pemberi sebagai bahan pematang pikiran.

Untunglah akhirnya saya menemukan trainer hebat yang bisa saya model. Lebih beruntung lagi mereka semua itu trainer hebat di bidangnya yang memiliki satu atau dua hal yang tidak saya setujui. Dengan demikian saya dapat me-modeling hal-hal positif tanpa kehilangan ciri khas diri.

Di samping trainer yang menjadi teladan dan menguatkan saya seperti Robert Dilts, Judith De Lozier, beberapa trainer lain menjadi amplas yang mengilapkan kapabilitas saya. Bagi saya mereka semuanya adalah raksasa-raksasa yang mengijinkan saya berdiri di atas bahu mereka sehingga saya dapat memiliki pandangan dan acuan yang jelas, luas serta indah.

Lebih dari setengah dekade menjalani profesi ini saya baru menyadari betapa tidak mudahnya menjadi seorang trainer yang dapat memuaskan setiap orang. Sebenarnya tidak hanya profesi ini, profesi manapun pasti tidak mudah memuaskan semua orang. Seorang trainer ternyata tidak cukup jika ia menguasai materi saja, ia harus mampu menyampaikannya (delivery). Seorang trainer dituntut seperti bunglon yang dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta. Secara bersamaan ia harus piawai berganti-ganti peran menjadi pelatih yang mengajarkan caranya melakukan suatu keterampilan. Supaya tidak membosankan ia harus memiliki keterampilan seperti seorang stand-up comedian.  Humor-humornya harus cerdas supaya tidak menjadi bumerang.

Tidak cukup dengan keterampilan-keterampilan di atas, ia harus mampu menginspirasi peserta untuk mengadopsi pandangan hidup baru dan melakukan perubahan mind-set. Semua itu membedakan seorang trainer dengan public speaker. Public speaker harus mampu meraih perhatian penuh dari audiens, tetapi ia tidak dituntut mengajarkan sesuatu kepada audiens secara langsung. Seorang trainer selain menguasai semua keterampilan yang dimiliki seorang public speaker harus piawai pula dalam public speaking.

Kita semua setuju bahwa pembicara publik yang mampu berinteraksi dengan audiens menggenggam nilai tambah, namun bagi seorang trainer, kecakapan berinteraksi dengan peserta merupakan syarat utama kesuksesan suatu pelatihan. Dengan demikian seorang trainer harus pula menguasai keterampilan berkomunikasi dan menciptakan training yang fun (menyenangkan), fine (tertata dengan baik) dan fond (suasana penuh kehangatan).

Saya bersyukur dan berterima kasih sebab untuk menguasai semua keterampilan yang saya perlukan, guru saya, Robert Dilts telah menulis sebuah buku “From Coach to Awakener” yang memberi panduan lengkap menguasai keterampilan pada level-level logika yang berbeda. Pendekatan neurological levels seperti ini sungguh memudahkan.

bersambung ke bagian kedua