ERNI JULIA KOK

Call us: +62811340686

Oleh: Erni Julia Kok

Apa alasan seseorang bergabung dalam kelas-kelas workshop Neuro-Linguistic Programming (NLP)? Demikian saya sering bertanya dalam hati. Orang ingin berubah, barangkali itu salah-satu alasannya. Mengingat saat ini ada begitu banyak lembaga atau perorangan yang memberikan coaching atau training di Indonesia, maka memilih lembaga atau trainer/coach yang kompeten bisa menjadi perkara yang rumit. Tanpa maksud mengangkat diri sendiri sebagai yang terbaik, penulis hanya ingin memberikan panduan agar calon pembelajar tidak tersesat di hutan rimba di mana teriakan-teriakan, “Aku yang terbaik…, aku yang termurah…, dan aku yang termudah…”, hingga “aku yang terhebat….” bergema tak henti-hentinya.

Setelah berkecimpung di bidang ini lebih dari delapan tahun, tentu saja saya telah menemukan jalan dan memetakan jalan tersebut untuk menjelajahi hutan rimba ini. Setiap kali saya mengobrol dengan seseorang saya selalu menyiapkan diri mendengar papatkan kesan gajah itu seperti cemeti panjang. Ada pula buku yang mengarahkannya meraba bagian belalainya gajah, maka ia pun berpikir kalau NLP itu seperti terompet. Setelah bingung sendiri ia memutuskan untuk mengikuti workshop yang mengajarkan NLP ibaratnya anatomi seekor gajah secara lengkap, bahkan juga cara menungganginya.

Bagaimana dengan saya pribadi? Apa alasan saya belajar NLP hingga menjadi seorang Master Trainer dan Advanced NLP Coach? Apakah karena saya ingin menjadi seorang trainer? Sejujurnya pada awalnya saya tidak bermaksud menjadi seorang trainer yang dapat disamaartikan sebagai pengajar itu. Mengingat di masa SMU saya pernah memberikan les privat dan terbukti saya bukan pengajar yang sabar. Bahkan hingga hari ini pun saya masih menyesali sikap saya terhadap murid-murid les. Saya merasa berdosa karena pernah satu atau dua kali memarahi, satu dua kali mencubit tangan kecil tak berdaya itu. Selain itu saya juga pilih kasih, saya hanya suka mengajar anak-anak yang pintar, cerdas dan sebenarnya tidak membutuhkan les. Setiap kali kenangan itu melintas, saya merasa so bad. Saya tidak suka mengajar dan itu menyebabkan saya sering kehilangan kesabaran.

Tetapi selama berkarir sebagai karyawan pun ternyata saya harus sering kehilangan sabar pada saat “mengajar” anak buah. Jadi apa pantas saya menjadi seorang pelatih yang selain harus walk the talk (memberi contoh) juga talk the walk (menguasai materi)??? Waktu itu saya berencana menjadi professional coach di bidang yang sangat saya kuasai yakni business coach. Untuk melengkapi diri saya pun “mencegat” Dr. John Grinder, PhD (penemu NLP bersama-sama Dr. Richard Bandler) di Sydney yang setiap tahun memberikan pelatihan di sana.

Dengan dasar pengetahuan yang sangat tipis—ya, hanya tahu tentang VAKOG, metaprograms dan dasar hypnosis—saya banyak mengalami kesulitan mengikuti pelajaran. Sembilan puluh sembilan persen jumlah peserta yang mencapai lebih dari 50 orang itu adalah trainer dan coach yang sudah praktek puluhan tahun, sedangkan saya waktu itu hanya “peserta berbau kencur”. Tetapi tanpa saya sadari justru keadaan seperti itu sangat membantu apalagi peserta-peserta lain selalu siap-sedia membantu. Salah-satu pengalaman tak terlupakan adalah pada saat dibantu oleh seorang life coach berpengalaman untuk masuk dalam trance state (umumnya disebut dihipnotis). Kejadian itu merupakan kali pertamanya secara conscious dapat berkomunikasi dengan subconscious, rasanya seperti dua orang sahabat yang telah hidup bersama selama berpuluh tahun namun belum pernah saling bertegur sapa.

Setelah mendapatkan sertifikasi Advanced NLP Coach, dan setelah mulai terbuka mata, maka saya melanjutkan berguru kepada Barney Wee dari Singapore. Saya tidak langsung menjadi pintar dan malah serasa berdiri di simpang jalan antara “kentalnya rasa” NLPU dan Richard Bandler pada Barney Wee dan sikap skeptisnya terhadap pengajaran John Grinder. Maka sambil mempraktekkan apa yang saya pelajari minggu sebelumnya di tempat kerja, saya memutuskan untuk melanjutkan belajar di NLPU (Robert Dilts dan kawan-kawan). Tanpa saya sadari setiap kali berlatih dan saya sungguh-sungguh menggunakan pengalaman pribadi serta berusaha jujur pada diri sendiri membawa pengaruh luar-biasa. Saya berhenti sebagai pemarah dan menjadi komunikator yang lebih efektif. Beberapa penyakit psikosomatis seperti migraine yang telah saya derita selama berpuluh tahun pun sembuh. Demikian pula batuk dan influensa berhenti menyerang setiap musim hujan. Saya mulai merancang gol dan melakukan visualisasi terstruktur (tidak asal melamun seperti dulu-dulu). Semua pengalaman memberdayakan itu telah menohok kesadaran saya. Wah…seandainya saya mempraktekkannya sejak usia dini, tentunya saya telah mencapai impian-impian saya 20 tahun lebih cepat! Saya boleh “terlambat” dan itu sudah terjadi, tapi saya dapat membantu orang lain untuk mengulangi kekeliruan yang pernah saya perbuat. Kesadaran ini membuat saya mengambil keputusan yang drastis, berhenti sebagai eksekutif perusahaan multi nasional untuk menjadi trainer.

Setelah mampu mempraktekkan berbagai teknik NLP, terutama yang ada hubungannya dengan menyelesaikan unfinished business masa lampau, saya belajar bagaimana mengolah pengalaman-pengalaman menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan masa kini, dengan demikian saya mampu menggabungkannya dalam workshops aplikatif dan advanced.

Di akhir tulisan ini saya ingin mengingatkan bahwa NLP bukanlah formula ajaib yang sekali teguk membuat kita berubah dan berdaya.  Namun, perlu praktik secara konsisten baru bisa mendapatkan manfaatnya. Setiap kali Anda tertarik untuk bergabung di suatu pelatihan, ingatlah bahwa tujuan utamanya bukan mengumpulkan sertifikat, melainkan menikmati manfaatnya. Seperti orang yang berendam dalam kolam mata air panas, nyemplung sekali tidak akan membawa manfaat signifikan.  (ejk)