ERNI JULIA KOK

Call us: +62811340686

artikel nlp learning style

Pada kesempatan ini saya ingin membahas tentang representational system (sistem representasi) yang tak lain tak bukan adalah sistem untuk mengakses informasi dan merekam setiap pengalaman inderawi. Sistem representasi—yang merepresentasikan dunia internal cukup luas cakupannya, sebab itu kita akan menekankan pembahasannya pada learning styles saja.
Learning styles (gaya-gaya pembelajaran) mengacu pada pengertian bahwa orang belajar dengan cara berbeda, dan setiap cara pembelajaran merupakan cara terbaik—paling efektif—bagi yang bersangkutan.
Dalam hubungannya dengan sistem representasi, ada orang yang lebih mudah menerima pelajaran melalui jalur atau kanal visual, auditory, perilaku yang melibatkan tubuh fisik. Pengajar yang efektif dapat memotivasi individu untuk mengembangkan kanal sistem representasi di mana dia mengalami kesulitan atau meningkatkan kanal yang menjadi kekuatannya.
Kanal sistem representasi dapat ditingkatkan untuk pembelajaran dengan berbagai cara, seperti:

  • Meningkatkan yang kuat—menyamakan (matching) kanal sistem representasi yang paling sering digunakan oleh pelajar (trainee/coachee/anak dll).
  • Mengembangkan yang lemah—menyampaikan dengan menggunakan kanal sistem representasi yang jarang digunakan (kelemahan) dengan tujuan merangsang cara-cara berpikir dan kemampuan persepsi yang berbeda. 
  • Menyesuaikan dengan materi—menekankan pada penggunakan kanal sistem representasi yang paling tepat untuk proses kognitif atau materi tertentu.
  • Menggabungkan—menggunakan semua kanal sistem presentasi.  

Aplikasi Representational System Dalam Proses Belajar
Berikut ini kita akan membahas bagaimana menyesuaikan (matching) masing-masing kanal referensi pelajar.

Visual
Gaya belajar visual cenderung lebih mudah menerima ide-ide dan pengetahuan dengan menonton (melihat) atau membaca. Sediakan untuk pelajar/kelas banyak gambar, diagram, bagan dan bahan bacaan untuk menyampaikan ide-ide dan poin-poin penting. Ingatkan pelajar agar sering menciptakan gambar-gambar mental atau memvisualisasi agar mudah mengingat banyak informasi.
Sedangkan ketika belajar perilaku baru, demonstrasikan unsur-unsur penting, dan mintalah pelajar menonton demo, baik demo oleh model ataupun video. Ketika membahas ide-ide, sambil menjelaskan gambarkan diagram, grafik dan simbol-simbol.
Pastikan selalu tersedia kertas gambar, marker atau spidol bermacam warna, alat-alat gambar lainnya, alat peraga dan poster.
Anjurkan klien untuk menggambar ulang dengan caranya sendiri sebab akan membantunya mengingat lebih terperinci dan signifikan. Sangat dianjurkan meminta trainee menerjemahkan ide-ide gambar ke dalam tulisan.

Auditory
Gaya belajar auditory (audio atau suara) lebih efektif dengan mendengarkan dan berdiskusi.
Ketika mengajar/melatih individu atau tim dengan preferensi auditory, pengajar sebaiknya menerangkan dengan cermat, sistematik, kronologi terutama definisi-definisi penting.
Mengulang dan memberi tekanan intonasi tertentu pada poin-poin penting serta memacu pelajar banyak mengajukan pertanyaan.
Bila individu/kelompok perlu memahami informasi berorientasi visual, maka akan sangat membantu apabila diagram-diagram, grafik dan gambar diorganisir dengan menggunakan statements atau kata-kata yang teratur dan diskusikan apa yang mereka persepsikan secara visual.
Anda dapat membantu pelajar menyusun kembali kalimat-kalimat yang kurang tepat untuk kemudian dibaca bersuara dengan intonasi, irama, volume yang bervariasi di mana sesuai sehingga mudah dipahami.
Demikian pula sebaliknya, jika Anda tidak memahami ide-ide yang dibicarakannya, maka membaca ulang kalimat-kalimatnya, mengonfirmasikan istilah-istilah yang tidak umum dan mencocokkan kesimpulan bisa sangat membantu kelancaran proses pembelajaran.
Pelajar dengan preferensi auditory dianjurkan untuk mendiskusikan kembali topik-topik yang baru dipelajari dengan teman-temannya. Menerangkan ide-ide baru kepada orang lain dan mengulangi poin-poin penting juga merupakan cara efektif.
Untuk meningkatkan kemampuan belajar menggunakan kanal visual atau kinesthetic, mintalah pelajar mengamati gambar-gambar dan demo, kemudian mendiskusikan apa yang diaksesnya dengan kedua kanal yang bukan preferensi tersebut.

Kinesthetic
Pelajar kinesthetic perlu terlibat secara fisik, banyak bergerak dan menyentuh/memegang benda-benda di sekelilingnya dan praktek.  Gunakan hands-on approach—langsung mengerjakan, metode trial-and-error supaya mereka dapat melakukan uji coba secara fisik.
Untuk mengingat informasi lisan, mintalah individu atau kelompok menulis poin-poin penting berulang-ulang dan melakukan demo/akting sehingga informasi tersebut menjadi bagian dari otot-otot mereka.
Bila mengajarkan perilaku baru, sangat penting individu atau kelompok melakukan  aktivitas. Peganglah dan bawalah tangan mereka ke posisi yang betul, dan bila postur tubuh mereka tidak menunjang performa yang sedang dilakukan, peganglah bahunya, dan mendorong punggungnya secara perlahan sehingga posturnya betul menjadi benar.
Bila merencanakan dan mempersiapkan performa yang akan dilaksanakan waktu-waktu yang akan datang, ajak mereka berimajinasi sambil melibatkan semua kanal sistem representasi dalam situasi yang dikehendaki serta role playing, gladi resik mental untuk membangun “inner game”.

Gabungan
Dalam setiap kelompok yang lumayan banyak anggotanya—di atas tiga orang,  Anda  boleh berantisipasi menghadapi preferensi sistem representasi yang bervariasi dan dengan demikian gaya belajar anggota kelompok juga bervariasi. Perlu diingat bahwa yang dimaksud bukanlah sekian orang hanya mampu menerima pelajaran yang disampaikan dengan demo, pemutaran video/film, menggunakan bagan dan alat peraga sedangkan sekian orang lainnya hanya memahami sedikit saja serta sisanya sama sekali melongo. Keekstreman seperti itu tidak pernah ada. Yang ada hanya sebagian orang merasa tidak termotivasi, merasa tidak nyaman bila proses belajar didominasi pendekatan kanal representasi yang bukan merupakan preferensinya. Supaya proses pembelajaran efektif, Anda perlu mengaplikasikan multi-sensory approach—menerangkan setiap poin-poin penting secara visual, auditory dan kinaesthetic.
Di saat merancang materi pelajaran dan saat menyampaikannya, tanyakan pada diri Anda:
Bagaimana saya dapat mendemonstrasikan ide-ide lisan ini secara visual?
Bagaimana saya membuat gambar ini terdengar?
Bagaimana saya dapat membuat irama ini menyentuh?
Selain menggunakan kata-kata sensory words, tentu saja untuk membunyikan gambar, membuat suara menyentuh dan menggambarkan ide-ide abstrak, kita juga dapat menggunakan mataphor atau analogi. Contoh: Bagi orang yang belum pernah merasakan panasnya hawa ketika suatu gunung api meletus, Anda dapat menganalogikan dengan peristiwa yang sangat umum seperti merebus air dan kemudian lipat gandakan panasnya hingga beribu-ribu kali.
Dalam video berikut ini saya mencontohkan bagaimana menjelaskan bagan gunung berapi kepada individu auditory dan kinaesthetic yang tidak cukup hanya memperhatikan sebuah gambar. Tentu saja setelah menontonnya Anda dapat terus berlatih sampai dapat melakukan jauh lebih baik lagi. 
https://www.youtube.com/watch?v=LTsO5Od7pvM