ERNI JULIA KOK

Call us: +62811340686

Neuro atau otak manusia menjadi perhatian pertama setiap teknik pengembangan sumber daya manusia. Dari sana berbagai model, metode, teknik dikembangkan untuk memaksimalkannya. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Begitulah ungkapan yang sering kita dengar. Demikian pula halnya NLP lahir dari ketidaksengajaan dan tumbuh dari akar modeling (meniru) strategi mental. Dan tentu saja neuro—terutama sistem dan proses berpikir—mendapatkan perhatian utama. Sejak awal Grinder dan Bandler menyadari kebenaran ungkapan “semua berasal dari pikiran” dan menyelam ke dasar pikiran terdalam—deep structure—yang mereka adopsi dari Noam Chomsky. Dari kedalaman pikiran itulah manusia mengendalikan semua proses pikiran yang tercermin dari bahasa baik verbal maupun non-verbal yang terekspresikan melalui perilaku.

            Kedekatan Grinder dengan antropolog dan ilmuwan serba bisa; Gregory Bateson memudahkan mereka memahami dan mampu mengadopsi logika berpikir pembelajaran (logical level of learning)  yang telah dikembangkannya  ke dalam NLP.

            Level logika merujuk pada proses dan fenomena suatu sistem yang saling terkait dengan sistem lain. Tidak ada satu pun proses dimulai, berjalan dan selesai tanpa terhubung dengan sistem lainnya. Suatu sistem merupakan gabungan dari sistem-sistem yang lebih kecil yang disebut sub-sistem, termasuk proses berpikir kita adalah satu sistem yang terdiri dari banyak sub-sistem, sekaligus juga merupakan bagian—sub-sistem—dari pada sistem lain yang lebih besar.

            Levels of learning (level-level proses pembelajaran) yang disusun Bateson terdiri dari empat level (tahap); yaitu level 0 hingga level 4.

Level Pembelajaran 0—tidak ada perubahan terjadi pada individu, kelompok atau organisasi pada level ini.  Yang terjadi adalah perilaku yang diulang-ulang sehingga menjadi rutinitas, dan dengan demikian kehilangan daya pikatnya. Individu maupun organisasi pada level ini boleh diibaratkan terjebak dalam kotak atau terowongan tanpa ujung. Mungkin dengan sepatah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan ini adalah stagnansi.

Level Pembelajaran I—perubahan perlahan. Tindakan korektif dan adaptasi perilaku mulai terjadi. Rencana dan prosedur pembelajaran mulai disusun. Walaupun modifikasi ini insignifikan, pada level ini telah dimungkinkan terjadinya peningkatan keterampilan dan kecakapan atau kapabilitas (capability). Namun individu, kelompok dan organisasi pada level ini masih berpikir dalam kotak.

Level Pembelajaran II—perubahan berkesinambungan. Pada level ini terjadi pergeseran perilaku menyeluruh, dan telah terjadi perpindahan ke kotak lain. Perubahan kebijakan, nilai-nilai dan prioritas yang dipandang perlu telah mulai diterapkan.

Level Pembelajaran III—perubahan evolusioner. Pada level ini individu, kelompok atau organisasi mulai mencari bentuk identitas baru. Secara signifikan terjadi pertumbuhan dan juga kemajuan. Mereka tidak saja berpikir di luar kotak, melainkan sudah meninggalkan kotak lama, dan berpindah ke ruang di luar kotak yang jauh lebih luas. Transisi peran, perubahan brand atau identitas terjadi pada level pembelajaran ini tanpa menghadapi rintangan berarti.

Level Pembelajaran IV—perubahan revolusioner. Kesadaran terhadap sesuatu yang benar-benar baru, unik dan transformatif. Individu, kelompok atau organisasi yang berada pada level ini bukan saja telah meninggalkan kotak, ruangan bahkan telah berpindah ke dunia baru. Mereka memiliki sikap baru, mengembangkan teknologi, inovasi dan kecakapan yang menyebabkan terbukanya pintu menuju dunia yang sama-sekali baru, dan kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya tak pernah dijelajahi.

            Robert Dilts dari NLP University, kemudian mengembangkan model NeuroLogical Levels berdasarkan logical levels of learning di atas. Ia berpendapat bahwa perubahan yang berlangsung pada individu, kelompok dan organisasi tidak hanya berlangsung pada satu level (tahap) tanpa memengaruhi tahap-tahap lain. Perubahan pada tahap yang lebih tinggi pasti memengaruhi tahap-tahap di bawahnya—walaupun tidak mutlak atau selalu demikian—dapat pula terjadi sebaliknya.

Dilts juga menambahkan level spiritual dengan alasan ketika tahap-tahap perubahan pada individu, kelompok atau organisasi tertentu terjalin (aligned) sedemikian rupa sebagai satu-kesatuan sistem yang menyatu, tidak akan terhenti hingga di situ saja, melainkan akan terus terhubung dengan sistem yang lebih besar; universal atau alam semesta agung dan bahkan Divine Power (Yang Maha Kuasa). Pada level ini individu, kelompok dan organisasi tidak lagi memikirkan kepentingan dirinya saja, tetapi terus bertanya untuk apa lagi atau untuk siapa lagi keberadaannya dalam suatu sistem. 

Pengaplikasian NeuroLogical Levels

NeuroLogical levels juga dapat diaplikasikan ke dalam modeling sebab rangkai strategi kita dapat dijelaskan atau digali dari setiap level yang berbeda. Modeling perilaku saja mungkin saja baik sebab si pemodel tidak akan terjebak dalam imitasi sehingga kehilangan identitasnya. Namun untuk suatu keterampilan yang melibatkan strategi makro, akan sangat membantu bila level-level nilai-nilai dan keyakinan serta identitas dapat dielisit lebih jauh oleh si pemodel.

            Bayangkan bagaimana anak-anak manusia purba memodel orangtua mereka, setelah berhasil menombak seekor beruang, mengulitinya dan selain memakan dagingnya juga memanfaatkan kulitnya sebagai pelindung tubuh dari hawa dingin. Menombok dan menguliti memang dapat dimodel pada level perilaku saja, tetapi memanfaatkan kulitnya? Tentunya anak-anak itu perlu tahu apa yang ada di balik benak orangtua mereka. Lebih menarik lagi mengapa taring binatang buas yang berhasil dibunuh dijadikan asesori yang dibanggakan? Bukankah itu simbol-simbol kesuksesan, keberanian dan kekuatan?

            Bagaimana dengan jaman komunikasi dan bordesless seperti sekarang ini? Bagaimana kalau saya memberikan contoh memodel seorang Oprah Winfrey menurut NeuroLogical levels perempuan sukses dan kaya raya ini?

          Siapa yang tidak mengenal sosok Oprah Winfrey? Dia tidak saja dikenal di seantero Amerika Serikat, namun juga mendunia. Walaupun sangat dikenal, namun banyak pula fakta-fakta yang hanya diketahui publik secara samar-samar. Misalnya bahwa ia meminta Ralph Lauren merancang jaket cashmere untuk anjing kesayangannya. Terpilih sebagai siswi terpopuler di SMU, dan selentingan-selentingan lain yang membuat penggemarnya semakin penasaran. Menurut pengakuannya sendiri, milyader ini kalau sedang menginap di hotel berbintang dan perlu berbicara dengan seseorang di tempat yang jauh, ia akan minta collect call. Sebab katanya biayanya terlalu mahal.

Kehidupan Ratu talk show ini memang tidak lepas dari kontroversi tetapi perjalanan hidupnya sungguh merupakan kisah mimpi menjadi kenyataan.  Oprah Gail Winfrey lahir tanggal 29 Januari 1954 di Kosciusko, Mississippi.  Meskipun sejak awal dia telah menunjukkan diri sebagai anak cerdas yang sudah dapat membaca pada usia 2 tahun, meloncat ke kelas tiga pada usia enam tahun namun tetap saja belum ada yang menduga bahwa kelak ia akan menjadi tokoh berpengaruh, tidak saja menjadi wanita terkaya di Amerika, tetapi wanita miliuner keturunan Afrika pertama dalam sejarah. 

Ayah Oprah bekerja di pertambangan batu bara dengan penghasilan pas-pasan, sehingga ibunya harus bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Awal kehidupan Oprah mengalami banyak perubahan, hingga usia enam tahun ia tinggal bersama neneknya, Haitee Mae Lee yang sangat spiritual.  Dalam didikan sang nenek itulah Oprah belajar membaca dan menulis serta menumbuhkan kecintaannya membaca karya-karya sastra sepanjang kehidupannya. Menurut neneknya semenjak Oprah dapat berbicara, ia telah deman panggung dan suka menjadi pusat perhati. Ia membacakan ayat-ayat Kitab Suci dalam kebaktian di gereja setempat, menunjukkan bakat lahiriah seorang penyiar yang akan dikenal dunia.

Ketika menginjak usia enam tahun, Oprah dihadapkan pada pengalaman buruk yang meninggalkan trauma mendalam. Setelah pindah ke Milwaukee bersama ibunya yang tidak begitu memedulikannya, Oprah diperkosa dan mengalami pelecehan seksual yang diperbuat oleh anggota keluarga dekatnya. Jauh dari perlindungan dan kasih-sayang, Oprah melarikan diri kepada obat bius yang mengakibatkan ia harus berurusan dengan beberapa penjara anak-anak.  Setelah melahirkan bayi laki-laki yang langsung meninggal, Oprah melarikan diri dari kehidupannya yang penuh ancaman itu untuk bergabung dengan ayahnya di Nashville, Tennessee. Waktu itu ia baru berusia 14 tahun.

Bertujuan meluruskan kembali jalannya, sang ayah memberi tugas kepadanya untuk membaca satu buku perminggu dan menuliskan laporan apa yang dibacanya. Usaha ini ternyata tidak sia-sia, Oprah terpilih sebagai siswi teladan dan menerima bea siswa penuh dari Tennessee State University di mana ia memilih jurusan Speech Communication dan Performing Arts. Pada waktu itu prestasi setinggi itu belum umum dicapai oleh seorang perempuan keturunan Afrika. Pada usia 18 tahun ia juga memenangkan gelar The Miss Black dalam kontes kecantikan.

Meskipun Oprah telah memulai perjalanan karirnya di media masa sejak masih menjadi siswa sekolah menengah atas, namun barulah pada awal tahun di perguruan tinggi ia mendapatkan kesempatan yang sesungguhnya. Ia menjadi pembaca berita termuda sekaligus wanita kulit hitam pertama di WTF-TV, Nashville. Pada tahun 1976 ia ditempatkan di Baltimore di mana ia menjadi co-anchor (orang kedua yang membaca berita) WJZ-TV untuk siaran berita sore. Kepopulerannya membuka jalan baginya menuju posisi asistan pengasuh acara talk show “People Are Talking” di stasiun tv yang sama.

Senyum lebarnya yang selalu hangat itu segera menjatuhkan hati banyak pemirsa. Pada tahun 1984, ia pindah ke Chicago, Illinois untuk mengasuh acara WLS-TV, AM Chicago. Menyusul pelonjakan rating setelah Oprah menjadi pembawa acara tetap, acara tersebut diganti namanya menjadi The Oprah Winfrey Show dan waktunya pun diperpanjang menjadi satu jam penuh.  Berkat penampilannya sebagai karakter yang ramah menyenangkan, dalam waktu hanya dua tahun telah go national.  Sejak itu dan selama 20 tahun berikutnya tetap menjadi program rating tertinggi dengan perkiraan 30 juta pemirsa di Amerika Serikat saja, belum termasuk  ke 109 negara di seluruh dunia yang mendapatkan hak siaran tunda ataupun langsung.

Dari apa yang sering diucapkan dan diperbuat Oprah, teristimewa pelajaran yang diberikannya secara blak-blakan dalam acara-acara televisinya, kita mendapatkan beberapa pelajaran penting yang selanjutnya dapat dianalisa dengan menggunakan level of modeling.

  • Spiritual (Visi)

Di awal karirnya Oprah selalu bertanya: “Bagaimana saya dapat memberikan pelayanan? Bagaimana saya dapat menggunakan televisi untuk melayani?” Dan ia menyadari kalasu bisnis yang berhasil dan nilai-nilai sosial yang tinggi saling berkaitan dan saling mendukung.

            Di usia belasan tahun dan baru saja terbebas dari penjara remaja,  dan Oprah telah menentukan akan memegang kendali atas jalan hidupnya sendiri, yakni dengan menetapkan gol atau target yang ingin dicapai dalam hidupnya. Ia memiliki visi yang sangat jelas, hal mana terungkap melalui ucapannya pada tahun 1987, di saat umurnya mencapai 32 tahun: “Aku sudah tahu dari dulu, aku akan menjadi miliarder dan wanita kulit hitam terkaya di Amerika pada usia tiga puluh tahun.” Dengan gol dan target yang divisikan serta ditindaklanjuti seperti itu, akhirnya Oprah tidak saja menjadi wanita kulit hitam terkaya di Amerika, bahkan dia menjadi salah-satu orang terkaya di dunia. 

  • Identitas:

Dedikasinya yang tinggi, semangat dan kepercayaannya terhadap berbagai isu tercermin di depan mata audiennya membedakannya dari presenter-presenter televisi yang lain. Keinginannya yang besar untuk mengembalikan kepada tidak saja komunitasnya sendiri, namun juga komunitas-komunitas di seluruh dunia membuat ia dipuja dan dicintai oleh publik.

  • Perilaku

Di lain kesempatan Oprah sering berkata: “Panggilan saya adalah untuk berbicara, memberi suara melalui cara-cara tertentu.” Kata Oprah. Begitu ia menyadari bakat alaminya dan keinginannya yang besar di bidang penyiaran, ia mengarahkan seluruh energinya untuk itu. Adalah kecintaannya yang luar biasa besar melakukan apa yang dilakukannya yang membuat ia menarik simpati seluruh dunia. Kecintaannya menyampaikan otentifikasi, yang mengijinkan orang untuk mengintip ke sisi kehidupan pribadinya yang paling gelap sekali pun menumbuhkan kepercayaan audien terhadap dirinya. Dilengkapi dengan kecintaan berkomunikasi dengan orang-orang dan keyakinan yang kukuh pada panggilan hidupnya, Oprah terangkat ke angkasa yang baru.